Showing posts with label HT KASKUS. Show all posts
Showing posts with label HT KASKUS. Show all posts

DIARY MISTERI Part 13 (Tamat)



Part 13 – Alkisah Kemudian Hari (TAMAT)

Entah perjanjian apa yang dibuat antara Langgeng dengan Bapak sehingga Ibu Suminah merasa sangat tertekan dengan segala kekayaan yang ia terima sekarang. Mungkin karena gelap mata atau semacamnya membuat Bapak lupa akan perjanjian yang sudah disepakati antara beliau dengan Langgeng (tentang detailnya ane kurang tau karena yang bersangkutan tidak mau diungkap terlalu banyak masalah ini). Dan dari sinilah efek dari kekayaan instan terjadi.


Part 13 - Alkisah Kemudian Hari

Seperti merasa dikhianati perjanjiannya, sosok Langgeng yang sempat ane kira baik itu murka menjadi-jadi. Beliau seperti menuntut apa yang sudah dijanjikan Bapak waktu membuat perjanjian dengan dia. Ane gabisa jelasin panjang lebar disini ... yang jelas waktu Bapak mulai mengabaikan perjanjian dengan Langgeng, satu persatu anggota keluarganya meninggal satu persatu (dari anak-anaknya terlebih dahulu). Ane pribadi juga melihat sendiri bagaimana mereka meninggal saat itu, tapi untuk menghormati mereka ane akan tutup mulut soal kasus tersebut.

Yang jelas mereka adalah korban Langgeng atas perjanjian yang sudah dibuat. Menurut penuturan dari Om Hao selaku orang yang bisa melihat melalui mata batin, semua korban Langgeng dimakan sukmanya. Sehingga jasad yang ditinggalkan di dunia nyata ini tidak sepenuhnya jazad nyata, dalam konteks ini digambarkan sebagai pelepah pisang. Pernah suatu waktu satu anggota keluarga mencoba membuktikan kebenarannya saat sedang memandikan jenazah. Konon jika memang korban pesugihan, kala dipotong salah satu anggota tubuhnya jasad tersebut akan berubah menjadi pelepah pisang dan memang benar adanya. Tapi untuk menghargai para pelayat waktu itu, jenazah tersebut tetap dibungkus kain kafan selayaknya manusia untuk menyimpan curiga.

Dalam segala konsekuensi & kenyataan yang sudah terjadi, tangisan Ibu Suminah semakin menjadi-jadi. Waktu itu tinggal bersisa satu anak Ibu Suminah, beliau, dengan Bapak. Bapak sendiri sekarang kembali berubah menjadi Bapak yang pendiam dan hobi merenung. Mungkin dia sudah terpikirkan akan ajal yang menjemputnya setelah ini. Dan tentunya selama kejadian ini berlangsung sosok Mbok Rah selalu ada bersama keluarga tersebut karena beliau adalah orang kepercayaan & secara tidak langsung beliau juga mengetahui apa yang terjadi dengan keluarga ini.

Mungkin saking paniknya waktu itu, sosok ane yang juga ikut melihat disana sudah terabaikan oleh mereka. Memang sesekali Ibu Suminah & Mbok Rah sering melihat ke ane tanpa ada banyak perkataan. Mungkin mereka sudah mempersilahkan ane untuk melihat sepenuhnya apa yang pernah terjadi dengan mereka. Sebagai seorang Ibu tentunya beliau ingin agar anak mereka satu-satunya tidak serta merta menjadi korban selanjutnya atas kekhilafan yang dilakukan oleh ayah mereka sendiri. Dengan inisiatif sendiri & bantuan Mbok Rah, Ibu Suminah pergi ke ruangan cermin tadi dan memecah cermin itu sehingga menjadi pecahan berkeping-keping. Ibu Suminah tahu bahwa Langgeng bisa muncul ke dunia manusia melalui objek yang bisa memantulkan bayangan, sehingga ia mengambil inisiatif untuk memecah kaca tersebut agar Langgeng tidak muncul kembali di kehidupan mereka.

Tapi keputusan yang diambil Ibu Suminah tempo hari sepertinya tidak bertahan lama. Mungkin karena sudah merasa lega dengan cermin yang sudah dihancurkan, membuat mawas diri mereka berkurang. Mereka kembali mendapati Langgeng muncul ke sekitar mereka melalui kolam yang ada di dalam rumah mereka (kolam bersifat memantulkan bayangan seperti bercermin). Waktu itu wujud Langgeng sudah mirip dengan yang ane deskripsikan sebagai si Bos. Ia kembali masuk ke ruangan cermin tadi dengan tatapan penuh dendam kepada keluarga Ibu Suminah. Dalam posisi ini Langgeng sudah kalang kabut, dari sosok yang sederhana dan berubah menjadi sangat kuat dan disegani oleh astral-astral lainnya (penghuni pohon gayam) sehingga ia diposisikan sebagai yang teratas di tempat ini.

Seluruh keluarga seperti kembali ke terror yang akan menuntun mereka ke ajal yang paling dekat. Mbok Rah yang juga selalu ada disamping keluarga itu juga sudah seperti tidak bisa banyak membantu. Beliau memutuskan untuk kembali ke tempat asalnya (berhenti bekerja). Bapak sudah seperti orang pasrah karena beliau sudah tahu apapun yang akan dilakukannya akan berakhir kepada Langgeng. Tapi tidak dengan Ibu Suminah, beliau tetap dengan kekeuh mencoba menyelamatkan anak semata wayangnya. Konsekuensi adalah harga mati yang harus dibayar mahal. Ibarat kata yang tidak berdosa ikut menanggung beban dari perjanjian ini, Ibu Suminah dan anak terakhirnya mencoba melarikan diri tapi naas bagi mereka semua. Ibunda dan buah hati yang saling menjaga ini terjatuh di kolam tempat Langgeng muncul & tewas dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.

Dan ya tanpa menampakkan diripun Langgeng bisa menagih janjinya yang telah sekian lama tertunda akibat lalu lintas masuk dia dihalangi (kaca cermin) dan mencabut sosok yang selalu melindungi ane di memori ini, Ibu Suminah. Benar-benar tidak tega dengan pemandangan tersebut, ane samperin Bapak dengan maksud memaki karena semua ini terjadi karena ulah dia! Dan di dalam ruangan Bapak mengintip keluar jendela melihat semua sanak familinya telah meninggalkan dia hanya karena gelimangan harta sementara yang membutakan akal sehatnya. Penyesalan apapun tidak akan mengembalikan apa yang sudah hilang, tinggal tersisa ane, Bapak, dan Langgeng. Disitulah sosok Langgeng muncul dihadapan kami, benar-benar berbeda dengan sosok yang ane liat waktu perjumpaan kali itu. Langgeng sudah seperti makhluk yang sejadi-jadinya mengerikan (ane ga bisa deskripsiin, karena ane udah dilarang buat menjelaskannya secara detail).

Terjadi perdebatan hebat antara Bapak dengan Langgeng. Penyesalan si Bapak sudah seperti angin lalu di hadapan Langgeng. Janji adalah janji yang harus ditepati, dan sesaat sebelum ajal menjemput Bapak ... Bapak dan Langgeng menoleh ke ane dan Bapak berkata ‘Tolong sampaikan semua ini kepada yang masih hidup, jangan sampai apa kesalahan yang sudah saya perbuat sekarang terulang lagi ke generasi selanjutnya. Cukup keluarga kami saja yang mengalami semua ini. Tidak ada kekayaan yang bisa didapat secara instan, semua butuh kerja keras. Dan bersekutu dengan jin adalah pilihan yang salah besar, bisa dilihat dari apa yang tersisa dari keluarga kami sekarang? Bahkan raga pun kami tidak memilikinya. Tolong sampikan” tutur si Bapak sambil mengisak tangisan. Entah bagaimana ceritanya Bapak bisa melihat ane, tapi yang jelas mungkin itulah inti dari semua pesan yang ingin disampaikan sosok keluarga ini – Keluarga Tak Kasat Mata yang ternyata mempunyai sejarah yang amat sangat kelam yang tidak pernah ane sangka sebelumnya semuanya bisa terungkap dengan sangat jelas.

Langgeng pun tanpa panjang lebar merebut sukma si pembuat perjanjian, dan menuju ke arah ane. Mampus habis ini kayanya giliran ane nih yang disantap, pikir ane waktu itu. Tapi dengan wujud yang seperti itu Langgeng masih seperti Langgeng yang ane jumpai bareng 13-13-13, beliau tetap berbicara dengan pembawaan yang penuh wibawa kepada ane. Intinya apa yang sudah diijinkan oleh beliau untuk dilihat tolong segera disampaikan apa adanya. Janji beliau kepada ane, beliau dengan sekutu-sekutunya akan menghargai setiap manusia yang tinggal apabila manusia juga menghargainya. Tidak tampak seperti sebuah negosiasi karena ane ga berani nawar sama sosok raksasa di depan, intinya I got it! Beliau menjadi seperti itupun juga sebenarnya karena kemampuannya disalahgunakan oleh manusia.

Buat yang nanya dimana Mbok Rah, Mbah Juminah, dan Mbah Prawiro setelah kejadian itu ... mereka menghabiskan masa tuanya dan memilih untuk bungkam sampai pesan kisah ini diungkap hari ini.

Untuk penghuni lain yang mungkin tidak ane ceritakan karena sudah diluar pembahasan inti cerita ini, bisa disimak di hasil investigasi Mbah Kaje & Om Hao - Happy Googling!
...
Dimanapun kita tinggal atau menempati sebuah tempat pasti ada satu unggah-ungguh (norma aturan) yang tentunya tanpa perlu dibicarakan, kebanyakan orang pasti sudah tahu. Tidak peduli di mantan kantor ane dulu, di tempat agan-agan sekarang ini, atau bahkan di tempat keramaian sekalipun. Sebelum kita tinggal di tempat kita berada sekarang, pasti adalah “sesuatu” yang tinggal lebih lama daripada kita. Dan disitulah berjuta pertanyaan muncul dari pembaca cerita ini, tentang apakah semua gangguan di mantan kantor ane itu tergolong normal? Dan apakah sejauh itu kita merasakan fine-fine saja?

Karena makin kesini banyak dari kami merasa sudah cukup dengan semua gangguan dari keluarga tak kasat mata. Sedikit flashback dari part awal hingga part akhir, ente semua bisa mengingat berbagai gangguan yang pernah kita alami. Tidak peduli pagi – siang – malam, gangguan selalu datang silih berganti ... mulai dari yang tampak atau tidak tampak. Tapi dengan kekompakan anak-anak semua yang selalu fight bareng-bareng ketika “mereka” muncul, perasaan takut atau bahkan terganggu sedikit terkesampingkan. Toh kami tahu, selama kami disana mereka hanya ingin menunjukkan eksistensinya saja. Tidak pernah sedikitpun mereka menakuti & mengacaukan pekerjaan kami, so that’s fine!

Tapi semenjak kejadian waktu event Nadine & Rico (yang kebetulan ane skip karena sosok tsb sangat sensitif terhadap ane) dimana mereka mulai menampakkan diri mereka kepada orang lain diluar kami membuat kami sedikit berpikir. Sudahlah kalo memang kalian mau mengganggu, ganggulah kami saja ... tidak perlu orang lain ngerasain experience yang sama juga. Sumpah, waktu itu kami semua sempet berpikiran seperti itu – mengorbankan diri sendiri demi orang lain hehe.

Tapi apadaya kami yang hanyalah manusia biasa ini, mau sok-sokan bernegosiasi mengusir penghuni yang sudah lama disana? Kami bukanlah paranormal, apalagi manusia yang diberi bakat lebih. Tindakan yang konyol dan tidak sopan menurut kami semua, karena ibarat kata kita adalah tamu di tempat itu. Padatnya aktivitas produksi saat pertama kali kita berpindah ke tempat itu mungkin membuat kita lupa akan norma aturan mendasar tadi. Satu kata “PERMISI” yang sempat terlewat dari kita sejak kedatangan kami semua, membuat kami sadar mungkin semua ini terjadi karena kami tidak kulanuwun (permisi) terlebih dahulu.

Dan benar adanya setelah hampir 2 tahun kami tinggal tanpa sebuah permisi, kami berinisiatif untuk melakukan syukuran untuk yang pertama kali. Dan setelahnya gangguan-gangguan mulai berkurang sedikit demi sedikit (walau tidak berarti hilang sepenuhnya). Jujur sebenernya selama kami tinggal di bangunan itu tidak pernah sedikitpun kami mengibarkan bendera putih hanya karena gangguan tersebut. Atau bahkan pengusiran dll nya ... untuk apa? Toh dimanapun kita berada kita selalu hidup berdampingan dengan mereka. Selama kita menghargai mereka, kita pun juga akan dihargai (walopun masih ada beberapa yang usil ngisengin) tapi setidaknya kami sudah terbiasa dan sudah sedikit berkurang kemunculan eksistensi mereka. Toh kesalahan awal ada di pihak manusia, dimana kami melupakan sebuah kata permisi sebelum meninggali bangunan tersebut. Kedepannya jangan anggap remeh kata permisi ya gan hehehe.
...
Sebuah rumah yang kokoh berdiri hingga sekarang, terlepas dari semua cerita horor yang ane ceritakan. Selalu mempunyai kenangan tersendiri buat ane & teman-teman ane. Bagi sebagian orang ini adalah teror, tapi bagi kami ini semua adalah nostalgia. Memang seram, memang menakutkan, tapi selalu ada hikmah kebersamaan yang bisa kita ambil. Sadar atau tidak sadar yang tak kasat mata juga telah menambah pesan tersendiri di kisah hidup ane & temen-temen waktu itu. Tanpa mereka kita tidak akan jadi pemberani, tanpa mereka kita tidak akan ingat akan pentingnya beribadah, kita ambil sisi positifnya saja. Bahkan sebelum meninggalkan bangunan ini beberapa dari temen ane sempet nangis ngerasa kangen akan semua nostalgia di tempat ini. Hey Ghost, You Rock! Hehehe makasih sudah pernah menghebokan suasana malam di kantor kami waktu itu, jangan ngajak main penghuni selanjutnya ya nanti dimarain kalian sama Langgeng.

In result, tidak semua makhluk halus punya niat jahat, ane percaya itu. Toh kita semua diciptakan oleh Tuhan hidup berdampingan dengan mereka. Dengan pengalaman yang ane alamin belakangan ini, ane jadi semakin yakin bahkan diantara dua dunia kita masih bisa bantu membantu untuk sebuah pesan yang positif. Benar-benar pengalaman yang luar biasa tentang menulis cerita ini, semua yang diluar nalar logika seketika bisa terjadi di keseluruhan part baik disengaja atau tidak disengaja. Dari yang awalnya ane hanya menceritakan pengalaman ane selama ada disana, sampai pada akhirnya Keluarga Tak Kasat Mata ikut ambil bagian dalam penyampaian pesan di 3 part akhir cerita. Terima kasih Ibu Suminah, Mbok Rah, Langgeng, yang sudah mengijinkan ane untuk menulis pesan-pesan kalian dengan bantuan 13-13-13! (ane masih bisa merasakan kehadiran mereka disamping ane waktu ane akan post part ini). Yang penting ane sekarang bisa merasakan lega selega-leganya karena dibalik cerita horor ini ane masih diberi kesempatan untuk menyampaikan amanah baik.
- TAMAT -
Terima kasih atas partisipasi pembaca yang sudah ikut meramaikan thread ini selama hampir sebulan lebih. Semoga kalian bisa mengambil sedikit pelajaran dari kejadian yang coba ane ceritakan di kisah ini. Ditunggu komentarnya ya, sudah bukan waktunya kita kepo lagi karena selama 13 part ini kita sudah belajar & mengenal bareng-bareng tentang mereka.



Share:

DIARY MISTERI Part 12



Part 12 - Linier Antar Masa

Sebuah pertanyaan besar yang membekas waktu pertama kali ane masuk kedalam penggambaran suasana waktu itu. Banyak pertanyaan timbul yang memaksa ane untuk mau tidak mau kembali menelusuri jejak sejarah. Setiap kali menjelang tengah malam, ane selalu merasakan lemas seperti semua beban ada di pundak ane, kaki juga mulai panas dengan sendirinya. Disitulah ane tau kalo sosok Ibu Suminah akan membawa pikiran saya ke kejadian itu lagi. Jadi ijinkan ane sekarang untuk menulis apa yang ane lihat waktu itu, dan apa yang Ibu Suminah ingin sampaikan selanjutnya.
...
Masih terduduk di ruang tamu keluarga Ibu Suminah, dengan sedikit tatapan kasihan kepada anak-anak Ibu Suminah yang sedang berbagi makanan. Perasaan haru ane sepertinya langsung bisa dibaca oleh Ibu Suminah. Kemudian beliau bercerita kepada ane bahwa dulunya kondisi keluarganya tidak seperti ini. Mereka sebenarnya adalah keluarga yang berkecukupan awalnya, tetapi yang namanya roda kehidupan pasti ada suatu posisi dimana kehidupan ada dibawah. Yang membuat keluarga Ibu Suminah jatuh bangkrut, sehingga mereka terpaksa meminjam ke orang-orang untuk menyambung hidup mereka. Kondisi seperti ini lah yang membuat Bapak berdiam diri di kamarnya, mungkin karena tidak kuat menanggung malu dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga yang gagal menghidupi keluarga. Berikutnya percakapan yang terjadi saya menggunakan bahasa Indonesia saja, daripada gagal paham memakai bahasa Jawa.

“Dik, kamu tetap disini dulu saja ya.. Besok saya dengan Bapak mau pergi, mungkin agak lama.” Tutur Ibu Suminah kepada saya.

“Saya ditinggal sendiri disini apa tidak apa-apa bu? Saya kan disini Cuma ngikut sama Ibu, nanti kalau ada apa-apa bagaimana bu?” tanya ane sedikit khawatir karena sekali lagi ane bisa masuk ke pemikiran ane sekarang ini semua karena ijin Ibu Suminah.

“Tidak apa-apa dik, tenang saja. Nanti adik & anak-anak saya titipkan ke Mbok Rah. Tidak usah khawatir beliau akan menjaga adik selama saya & Bapak pergi” jawab Ibu Suminah kepada saya.

“Apa saya tidak bisa pulang saja bu? Saya takut” saut ane dengan perasaan yang serba gemetaran.

“Tidak perlu takut dik, nanti kalau kamu pulang sekarang kamu tidak akan tahu apa yang terjadi disini. Ceritamu tidak akan selesai, sudah disini dulu sebentar lagi. Saya jamin adik akan aman bersama Mbok Rah. Beliau juga bisa melihat adik, jadi insyaallah akan ada sedikit cerita dari beliau.” jawab Ibu Suminah meyakinkan ane.

Ok fine lah kalau begitu, toh ane disini juga untuk menuntaskan apa yang sudah ane mulai. Jadi mau tidak mau, takut tidak takut, ane harus stay lebih lama di memori ini. Sampai pada akhirnya Ibu Suminah dan Bapak berpamitan pergi kepada kami semuanya untuk berpergian ke pulau seberang. Tentunya sebelum pergi beliau memperkenalkan saya kepada Mbok Rah. Kesan pertama ane bertemu dengan Mbok Rah, beliau adalah sosok wanita lanjut usia yang sangat baik. Bisa dibilang “grapyak” (gampang bergaul) dengan saya bahkan ane pribadi kagum dengan kebijaksanaan beliau. Dengan kondisi keluarga Ibu Suminah yang seperti sekarang ini, ternyata masih ada orang yang berbaik hati mau membantu tanpa mengharap imbalan materi apapun.

Terlihat Ibu Suminah seperti membisikkan sesuatu kepada Mbok Rah sebelum mereka semua berpamitan pergi. Sesekali beliau menganggukkan kepala kepada ane seperti mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lalu ane kembali masuk bersama anak-anak Ibu Suminah, kasian juga pikir ane waktu itu melihat keadaan yang apa adanya ... anak-anak kecil ini tidak tahu akan makan apa mereka hari ini, atau bahkan di kemudian hari. Terkadang ane juga sempat ada pikiran benci kepada Ibu Suminah & Bapak yang tega meninggalkan keluarganya di kondisi seperti itu. Tapi apadaya ane disini hanya untuk melihat bukan untuk menjudge dan mengambil tindakan sendiri.

“Dik, apa kamu sudah makan? Mbok mau masak sekalian buat anak-anak, jika adik mau bisa bantu saya masak di pawon (dapur tempo dulu dengan kitchen set tradisional)”.

“Saya tidak begitu lapar bu, tapi tidak apa-apalah bu sekalian belajar memasak hehe” jawab ane ke Mbok Rah, setidaknya di kondisi ini ane bisa sedikit membantu.

Jadilah ane & Mbok Rah memulai memasak untuk anak-anak Ibu Suminah. Memang bukan menu makanan yang cukup, tapi seenggaknya perut mereka terisi untuk hari ini – beban pikiran berkurang. Sambil sesekali Mbok Rah menyuruh ane buat nyicipin makanan tadi, sebenarnya ane ga terlalu suka makanan berbahan ubi tapi untuk melegakan perasaan Mbok Rah ane coba makanan tadi. Dan ternyata rasanya tidak seburuk yang ane kira.

“Wah Mbok Rah pintar memasak juga ya, makanan buatan Mbok Rah enak pasti anak-anak akan langsung makan sampai habis. Ayo lah Mbok kita bawa ke anak-anak sekarang” tutur ane kepada Mbok Rah.

Dan Mbok Rah pun langsung berkemas dengan segala peralatan memasaknya dan bergabung dengan ane, berkumpul dengan anak-anak untuk menyantap hidangan yang sudah dipersiapkan oleh Mbok Rah. Anak-anak sangat senang sekali menyantap hidangan tersebut dengan lahap, ane dengan Mbok Rah hanya tersenyum dengan penuh haru.

“Dik, maaf ya waktu itu saya tidak ada maksud untuk menakuti adik dan teman-teman” tutur Mbok Rah sambil masih menatap anak-anak.

“Menakut-nakuti bagaimana ya Mbok? Dan kapan? Kok ada teman-teman saya juga?” tanya ane heran.

“Dulu saya pernah beberapa kali datang ke tempat adik. Sudah menjadi kebiasaan saya setelah saya sholat saya biasanya memang sering membantu memasak untuk keluarga ini. Tidak sengaja saya menampakkan diri saya waktu itu, tapi saya tidak ada maksud menakuti. Saya hanya ingin memperingatkan saja, tapi mungkin karena sesuatu yang disebelah ruangan adik waktu itu sangat mengerikan ... Saya mencoba untuk mengucapkan Astaghfirullah & berharap sosok tersebut segera hilang dan tidak mengganggu kalian.” Tutur Mbok Rah kepada saya.

Ane Cuma melongo mendengar penjelasan Mbok Rah, jadi secara tidak langsung sekarang ini ane sedang ngobrol sama sosok “Religious Grandma”. BISA SAMPAI SEGITUNYA! KENAPA SEMUA BISA NYAMBUNG SEPERTI INI? Ane semakin buyar setelah mengetahui banyak kejadian yang pernah terjadi beberapa tahun lalu & tersimpulkan menjadi sebuah jawaban beberapa hari yang lalu. Tapi satu yang selalu ane pegang teguh dari awal bahwa semua penghuni disana tidaklah jahat, bahkan ada yang rela membantu & menyampaikan pesan kepada saya – seperti Mbok Rah & Ibu Suminah yang telah berada di samping kita semua semenjak cerita ini beredar. Apakah pembaca ada yang merasakan kehadiran mereka selain ane?

“Ini baru saya saja ya Dik, dan masih banyak lagi mungkin yang akan membuat pengakuan serupa di memori ini. Jangan kaget, kita semua disini tidak akan mencelakai adik. Toh niat adik hanya menceritakan lagi kejadian ini, kami semua sudah sepakat akan hal ini.”
...
Beberapa hari setelah ditinggal pergi oleh Ibu Suminah & Bapak, saya hanya menjalani hari-hari bersama Mbok Rah & anak-anak. Ibarat kata saya sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh mereka. Tidak seperti sebelumnya, entah kenapa semenjak Ibu & Bapak pergi selalu saja ada orang yang ikut membantu sekedar memberikan bantuan sembako, dll. Intinya semuanya datang dengan sangat mudah, ya tentu saja kami semua disitu senang & bersyukur dibantu oleh banyak orang baik.

Tidak lama setelah itu Ibu Suminah & Bapak kembali, sungguh berbeda pandangan yang diberikan Bapak saat itu. Aura senang & ceria memancar dari wajahnya, tapi tatapan serupa tidak tampak dari raut muka Ibu Suminah. Jujur ane ga peduli sama Bapak karena dari awal yang ngeruwat ane di alam ini adalah Ibu Suminah. Sempat saya dekati Ibu Suminah waktu itu dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Bu Suminah hanya menggelengkan kepala sambil sedikit meneteskan air matanya.

‘Ibu kenapa bu? Pulang-pulang kok malah sedih? Apa Ibu ga kangen sama anak-anak & Mbok Rah?" tanya ane penasaran.

Masih tidak mau menjawab, Ibu Suminah memanggil anak-anaknya dan mengelus kepala mereka satu persatu. Sekali dia menatap Mbok Rah, dan menggelengkan kepalanya. Dan seketika Mbok Rah langsung berpamitan pergi – Apa yang sebenarnya terjadi?
...
Ya mungkin beberapa pembaca sudah mendengar desas-desus tentang sosok beliau. Bahkan sempat terjadi perdebatan antara ane, Om Hao, dengan Mbah Kaje tentang beliau. Mbah Kaje beranggapan kalo sosok Langgeng itu jahat, ane sendiri beranggapan kalo sosok Langgeng itu sebenarnya baik, sedangkan Om Hao memilih untuk netral. Om Hao berasumsi bahwa Langgeng itu ibarat pisau, baik atau buruk itu tergantung kita yang menggunakan. Itu adalah inti perdebatan 13-13-13 saat kita semua berjumpa di Jogjakarta beberapa hari yang lalu.

Banyak cerita terucap di saat pertemuan rahasia antara 13-13-13 dengan Langgeng. Langgeng banyak bercerita tentang kehidupannya ribuan tahun yang lalu. Dimana dia memperoleh kesaktian melalui jalan mokhsa, dan kemudian diambil alih oleh seseorang yang mungkin lebih tinggi ilmunya sehingga beliau tersesat di jalan yang salah & berujung seperti sekarang ini. Dengan segala kesaktiannya, Langgeng bisa mentransformasikan intan & permata dari dunia gaib ke dunia nyata. Oleh sebab itulah banyak manusia yang takabur & memanfaatkan kesaktian beliau untuk tujuan serakah yang membutakan akan segala resiko dibalik perjanjian tersebut.

Langgeng pun juga bercerita, ia telah hidup ribuan tahun lamanya dan banyak manusia yang menyalahgunakan kekuatannya. Langgeng mempunyai banyak nama, dan beragam wujud karena apapun yang telah “dinikmatinya” akan berimbas kepada wujud fisik dirinya. 13-13-13 sepakat untuk tidak bercerita lebih jauh tentang sosok Langgeng diluar konteks cerita ini. Karena pembahasan tersebut akan lebih condong kedalam Mitologi Tanah Jawa yang dimana sudah sangat OOT dari inti cerita ini.

Lalu Apakah Langgeng nyaman dengan kondisi tersebut? Tentunya tidak, bahkan ia mengaku dengan sangat terpaksa menikmati perjanjian antara manusia dengan dirinya. Terkadang ia menangis sendiri saat menikmati hasil dari perjanjian tersebut. Sama halnya saat nama Langgeng diberikan kepadanya waktu menjadi pelayan untuk Keluarga Ibu Suminah.
...
Kehidupan keluarga Ibu Suminah mendadak bisa berubah drastis seketika kepulangan dari perantauan mereka. Mereka bahkan tidak membawa sesuatu yang berarti saat kepulangan mereka, hanya sebuah cermin yang tidak begitu besar yang dibawa Bapak & kemudian dipasangkan di sebuah ruangan. Dan kerjaan Bapak hanya bolak-balik ke ruangan tersebut, sumpah gelagat Bapak jadi aneh banget waktu itu.

Ibu Suminah hanya tertunduk sedih seperti orang yang sedang tertekan, dengan langkah mantap ane beraniin diri buat mendekat ke beliau dan bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi bu? Mohon maaf, biarpun sebelumnya kondisi memang sulit tapi saya baru sekali ini melihat Ibu duduk termenung seperti memikirkan sesuatu yang sangat berat.”

“Tidak apa-apa dik, adik tidak perlu khawatir. Yang akan menanggung semua perlakuan Bapak hanya saya dengan anak-anak saja” jawab Ibu Suminah dengan kepala yang masih tertunduk lesu.

Tapi benar saja kondisi keluarga ini berubah dengan sangat drastis, terutama dari segi finansial. Kemudian mereka membangun rumah baru yang bisa dibilang sangat mewah waktu itu dengan satu ruangan khusus hanya untuk sebuah cermin! Struktur organisasi keluarga ini pun berubah, Mbok Rah yang sebelumnya sering membantu serabutan kini hanya khusus menjaga anak-anak saja. Dan mereka juga memperkerjakan sanak keluarga sendiri, Mbah Juminah sebagai juru masak, dan Mbah Pawiro sebagai juru kebun (yang mana mereka pernah menampakkan diri di cerita Nadine & Rico – part 10). Tidak cukup dengan itu, bahkan mereka seperti memberikan sebuah sindiran kepada tetangga yang pernah memaki keluarga mereka dengan memberikan pinjaman tanpa harus dikembalikan. Berubah drastis sekali bukan?

Tapi dengan keadaan seperti ini sekarang sepertinya hanya Bapak yang menikmati perubahan yang terjadi. Anak-anak juga menikmatinya karena mereka sudah tidak perlu menahan lapar dan hidup serba kekurangan di masa kecilnya, tapi mereka tidak tahu apa-apa dengan apa konsekuensi dibalik semua ini. Hanya Ibu Suminah yang selalu bersedih sambil sesekali ditemani oleh Mbok Rah. Jujur ane ga tahan liat kondisi Ibu Suminah waktu itu, dan ane memutuskan untuk ngepo ruangan baru yang hanya berisikan cermin. Ane berani-berani aja toh Bapak ga bisa liat ane, dan apapun yang terjadi di memori itu tidak akan berdampak kepada ane.

Ane buka pelan-pelan itu pintu, dan dengan sangat jelas ane lihat sosok Langgeng sedang duduk bertapa sambil menangis. Terkadang wujud aslinya memaksa untuk berubah, sambil menangis beliau mencoba untuk tetap bertahan di wujud aslinya. Dengan tatapan tajamnya ia memandang ane dan mengisyaratkan untuk segera pergi & cukup melihat saja apa yang akan terjadi setelah ini.

BERSAMBUNG KE PART SELANJUTNYA



Share:

Sosial Media

Hai! Nama saya Agung Prasetyo N dan biasa di panggil Agung. Saya masih seorang pelajar di SMA. Saya berasal dari Boyolali. Read More..

Total Pageviews

Blog Archive

Entri Terbaru