Showing posts with label Pelajaran. Show all posts
Showing posts with label Pelajaran. Show all posts

Contoh Resensi Buku Fiksi Buku Kumpulan Cerpen





Mandi Api potret masyarakat Bali dalam Goncangan sosio-kultural

Identitas buku:
1.      Judul buku                  : Mandi Api
2.      Pengarang                   : Gde Aryantha Soethama
3.      Penerbit                       : Kompas
4.      Tahun terbit                 : 2006
5.      Jumlah halaman           : vi+170 halaman

Buku kumpulan cerpen Mandi Api terdiri atas 21 cerita. Cerpen yang mengisahkan tentang pergolakan yang terjadi diantara warga Bali para sesepuh dan remaja karena pengaruh derasnya arus pariwisata yang pelan-pelan membuat budaya setempat hilang. Karya sastra yang menggambarkan budaya suatu suku memang menarik, apalagi dikemas dengan apik dan sesuai dengan konsumsi pembaca. Gde Aryantha Soethama tidak menentang arus perubahan yang terjadi di Bali, tapi ia mengungkapkan bahwa bukan hanya janji sebuah kemakmuran tetapi dibalik itu juga ada segudang persoalan yang menunjukkan Bali berada dipersimpangan jalan.

Gde Aryantha Soethama merupakan seorang penulisjuga wartawan yang aktif menulis cerita pendek, laporan perjalanan, dan karya jurnalistik. Ia juga telah menulis sejumlah buku dan novel. Cerpen-cerpennya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, bahkan dua cerpennya terpilih sebagai cerpen pilihan kompas (1993 dan 1994).

Cerpen pertama, berjudul “Tembok Puri” yang berisi tentang Kadek Sumetri merupakan orang biasa yang menikah dengan orang puri Anak Agung Ngurah Parwata. Meskipun melewati proses yang penuh pertimbangan pernikahan tersebut berlangsung meriah, Kadek Sumetri menerima menjadi orang puri karena sekarang puri lebih modern dan aturannya tidak terlalu mengikat. Keluarga Kadek semakin dihormati semenjak Kadek menjadi bangsawan puri, tapi puri tetaplah puri yang memiliki aturan dengan tembok sebagai pembatas. Saat keluarga Kadek akan melangsungkan upacara metatah, acara potong gigi khusus untuk Kadek dan saudara-saudaranya. Kadek seharusnya metatah dirumahnya, tapi sekarang ia bangsawan puri maka ia meminta izin terlebih dahulu pada sesepuh puri. Mereka merestui dengan syarat : Kadek harus metatah di balai-balai khusus terpisah dari saudara-saudaranya. Ayahnya menolak keras syarat itu karena berhubungan dengan harga diri keluarga. Suaminya tetapi menyuruh ia metatah di balai-balai khusus jika tidak terpaksa mereka harus bercerai. Dalam kebimbangan itu Kadek Sumetri bingung memutuskan yang mana hingga timbul niatan agar dia metatah saat sudah wafat. Maka, dihari upacara metatah tiba suami Kadek mengantarnya kerumah orang tuanya. Kadek tak bisa menjadi wanita yang dikucilkan apalagi  menjanda dalam usianya yang masih muda, tapi orang tua Kadek mengerti dan menerima keputusan Kadek. Tepat saat matahari terbit tiga saudara Kadek metatah di bale dangin yang terbuka dengan sangging yang menggosok gigi mereka dengan kikir satu-persatu. Kadek melihat itu dibalik jendela kaca diruang tengah, Kadek sedih tapi tak ada yang tahu bagaimana hatinya yang perih seperti diiris sembilu.

      Cerpen kedua, berjudul “Anak Saya Perlu Makan” yang menceritakan kisah Rukmini seorang yang tekena garis nasib malang tapi jujur. Rukmini berusaha menghidupi dirinya dan anaknya dengan mencoba melamar kerja disebuah bank melalui teman lamanya, Joko tapi ternyata karyawan baru di bank itu menyogok maka Rukmini juga harus menyogok. Uang tabungan Rp. 1 juta ia relakan untuk nyogok, Rukmini harus melewati hal ini karena ia terjebak rayuan lelaki beristri yang baru diketahui Rukmini setelah ia hamil tiga bulan, mereka kawin tapi Rukmini mengatakan ingin cerai kepada orang tuanya. Jadilah sekarang Rukmini menanggung beban hidupnya dan anaknya. Direktur bank itu mengincar Rukmini, karena Rukmini hanya memikirkan anaknya yang harus makan maka ia terima ajakan direktur itu untuk kencan, Joko sempat terkejut tapi mulai paham setelah tahu alsannya. Rukmini menunggu di pantai Sanur tempat yang dijanjikan, direktur itu lalu membawa Rukmini kerumahnya mengantarnya bukan mengajaknya kencan hanya ingin memastikan bahwa ia akan memiliki karyawan yang jujur.

Cerpen ketiga, berjudul “Ibu Guru Anakku” menceritakan seorang ayah yang mengambil cuti agar bisa mengantar-jemput anaknya di taman kanak-kanak (TK). Anak tersebut selalu diantar keluar oleh gurunya bersama ank-anak lain, bu Rahayu namanya orang Purwokerto yang pergi ke Bali untuk dapat kerja dihotel keinginannya dan keluarga. Dalam keadaannya yang sulit ia terpaksa berbohong telah mendapat pekerjaan dihotel tapi, ia mendapat kabar kalau ibunya sakit keras dan butuh biaya berobat. Ia datang kerumah pria tersebut dan meminjam uang, ia diberi Rp. 75 ribu, setelah itu dia mengundurkan diri dari TK tersebut. Sampai suatu hari ia datang lagi kerumah lelaki itu dan ia pamit akan pergi ke Lombok karena mendapat info tentang lowongan kerja disana. Betapa gigihnya perjuangan bu Rahayu untuk mendapatkan pekerjaan itu.

      Cerpen keempat, berjudul “Sekarang Dia Bangsawan” menceritakan seorang anak kecil bernama Wayan Kerug yang ditemukan peneliti hama digubuk reyotnya sendiri ditinggal mati ibu dan neneknya, sedangkan ayahnya, Ketut Linggih memilih menikah lagi dan meninggalkan mereka. Namanya berubah menjadi Akihiro Maeda, oleh orang tua angkatny diberi tanggung jawab mengelola penginapan dan restoran dikawasan wisata Dorono Sato, Jepang Tenggara. Maeda mencoba mencari informasi tentang ayahnya yang ternyata seorang pengusaha wisata arung jeram di Sungai Ayung tapi dengan nama Gusti Agung Linggih. Maeda pergi ke Bali bersama rombongannya orang Amerika, yang menerima tur arung jeram yang disambut Gusti Agung Linggih. Maeda bertanya pada pemandu wisata asal usul Gusti Agung Linggih, yang ternyata benar ia adalah ayahnya, tapi Maeda tidak merasakan getaran apapun saat bertemu dengan ayahnya, saat mengijakkan kaki ditanah kelahirannya. Mungkin ia merasa dilupakan, dicampakkan dari tanah kelahirannya, sampai ayahnya tidak menyadari Maeda adalah Wayan Kerug anak yang pernah ditinggalkannya yang sekarang menjadi pengusaha seperti dirinya di negeri orang. Maeda sendiri berpikir bahwa Wayan Kerug sudah mati bersama kenangan tentang tanah kelahirannya yang lenyap tak berbekas.

Cerpen kelima, berjudul “Terompong Beruk” menceritakan kisah pilu Mangku Rajeg yang berusaha memelihara satu-satunya budaya dari Bangle, tapi gagal. Sebagai peninggalan budaya yang bersejarah terompong beruk akan dipentaskan dalam Pesta Kesenian Bali, awalnya terompong beruk hampir punah, karena wisatawan tidak tertarik melihat terompong beruk di Bangle. Tapi kesempatan ini membuat warga Bangle bangga memiliki terompong beruk tersebut, tentu yang paling bangga adalah Mangku Rajeg yang merupakan pemangku terompong beruk ia bahkan membayangkan pasti banyak sekali penonton yang menonton mereka. Tapi, harapan tinggal harapan hanya segelintir orang yang menonton mereka, satu persatu mereka pergi hanya tersisa lima turis Australia. Tapi naas, saat Mangku Rajeg keluar berpikir untuk segera pulang ia malah mendapat kabar dari Ketut Wijil salah satu muridnya bahwa mereka telah menjual terompong beruk tersebut kepada lima turis Australia sebesar Rp. 15 juta untuk koleksi museum mereka. Sontak saja hal itu membuat Mangku Rajeg terkejut dan sedih, Ia bahkan merasa dewa batara telah meninggalkannya.

Cerpen keenam, berjudul “Arloji Sumiani” bercerita tentang seorang lelaki Bali karyawan salah satu penerbit yang sering ke Solo menghadiri rapat kerja Koran Masuk Desa. Sumiani sering menjadi guide-nya, suatu ketika lelaki itu menghadiahkan Sumiani jam tangan. Sumiani menerimanya dengan girang karena ia bersedih karena tiga bulan lagi ia akan kawin, lelaki itu tidak menghadiri pernikahan Sumiani. Suatu ketika jam itu dikembalikan lewat pos paket karena suami Sumiani selalu curiga akan jam tangan tersebut, lalu jam tangan itu disimpan di bagian belakang almari. Maya, istri lelaki tersebut sedang butuh jam karena jam nya rusak, tapi ia meminta jam yang mahal ia masih belum bisa membelikan maka dari itu lelaki itu memberikan jam tangan Sumiani kepada istrinya.Dia ceritakan semuanya, istrinya menyukai jam tangan tersebut, kini Sumiani menjadi istri bos nya telah memiliki jam tangan yang lebih bagus. Tapi, keberadaan jam itu membuat lelaki itu gelisah maka,dimalam hari saat istrinya terlelap ia bakar jam tangan itu agar tak berjejak.

Cerpen ketujuh, berjudul “Pelayat” menceritakan kisah seorang istri yang ditinggal suaminya mati muda, tentu saja ia sedih ditambah lagi semua pelayat menanyakan alasan kematian suaminya. Ia akan merasa sedih karena mengingat hal itu, tapi pelayat itu tak ada yang mau mengerti mereka tetap menanyakan penyebab kematian suaminya. Tapi sama sekali tak ada yang peduli dengan kelangsungan hidupnya dan ketiga anaknya. Sampai suatu ketika datang lagi dua orang pelayat, yang ternyata lelaki tersebut teman suaminya yang dulu pernah dibantu suaminya menggerakkan usaha percetakan. Karena kegigihan mereka, usaha tersebut mulai bergerak tapi suaminya memilih menjadi PNS karena anaknya sudah mulai sekolah. Lelaki itu memberikan bantuan berupa deposito, memberi mereka kuasa mengambil bunganya sebesar seratus ribu.

Cerpen kedelapan, berjudul “Seekor Ayam Panggang” menceritakan dua remaja Bali yang lama tinggal di Semarang tapi ke Bali karena ada acara odalan di sanggah keluarga. Mereka memang tidak begitu mengerti tentang adat Bali, maka setelah ayam panggang dihaturkan kepada Hyang Widhi, merasa telah menjad lungsuran mereka mengambil dan menyantapnya diam-diam. Tentu saja hal itu membuat tante Nyoman panik, Putu Darmika anak tertua keluarga itu dengan geram memutuskan akan mengadakan upacara macaru dengan persiapan penuh dan biaya sebesar Rp. 3 juta. Toma dan Dedi takut maka mereka lapor kepada ayah mereka, Ketut Lasia. Ketut lasia berusaha bicara dengan kakaknya Putu Darmika, tapi memang dasarnya kaku Putu Darmika tetap ingin upacara tersebut dilakukan dan karena itu ulah anak Ketut Lasia, maka seluruh biaya ditanggung Ketut Lasia. Ketut Lasia berpikir upacara itu hanya buang-buang tenaga dan uang karena kesalahan remaja yang tak tahu ayam panggang bisa bernilai tiga juta di Bali.

Cerpen kesembilan, berjudul “Mandi Api” menceritakan sebuah desa yang indah dimana memiliki potensi alam yang melimpah, memang tidak semakmur desa sebelah. Tapi desa tersebut mulai dapat mengambil peluang untuk menarik turis agar pergi kedesa mereka. Karena kekayaan alam yang melimpah itulah desa tersebut dilirik oleh pengusaha kaya untuk membangun hotel disana, warga desa merasa senang hanya Durma yang menentang karena ia sadar hal itu hanya akan membuat desa mereka meninggalkan kebudayaan dan mengurangi keindahan desa mereka. Segala macam cara dilakukan, sampai pada saat peresmian Durma pura-pura kesurupan dia berteriak dan berlagak seperti orang kesurupan. Tapi tradisi disana untuk membuktikan orang kesurupan adalah dengan membakar mereka dengan api suci, kalau tidak terbakar maka segala permintaannya akan dipenuhi karena dianggap sebagai perintah Tuhan. Tapi jika berbohong maka mereka akan terbakar. Segala sesuatu sudah siap, Durma sebentar lagi akan dilempar kedalam api, tapi ternyata pendeta malah kesurupan, ia dilempar kedalam api dan memakan segala bara api didalamnya, tentu saja karena ia benar-benar kesurupan.
Share:

Contoh Khutbah Jumat dengan Tema Isra’ Mi’raj




Khutbah Pertama

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ نَوَّرَ قُلُوْبَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِالْمَعْرِفَةِ فَاطْمَأَنَّتْ قُلُوْبُهُمْ بِالتَّوْحِيْدِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَهُوَ الرَّقِيْبُ الْمَجِيْدُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَنَارَ الْوُجُوْدَ بِنُوْرِ دِيْنِهِ وَشَرِيْعَتِهِ إِلَى يَوْمِ الْوَعِيْدِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِلَى يَوْمِ الْمَوْعُوْدِ. . أَمَّا بَعْدُ

Bulan Rajab Kita memperingati Isra’ Mi’raj dan dengan memperingati Isra’Mi’raj Kita menjaga Kualitas Shalat kita. Bulan Rajab kita mengenang peristiwa bersejarah dimana perintah Shalat Wajib Lima Waktu diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam. Bulan Rajab merupakan satu-satunya bulan yang bersejarah bagi Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam sehingga dalam salah satu haditsnya beliau pernah bersabda bahwa Rajab adalah bulanku, Sya’ban adalah bulan Tuhanku dan Ramadhan adalah bulan umatku. Berikut ini Khutbah Jumat: Memperingati Isra’ Mi’raj Untuk Menjaga Kualitas Shalat.

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا لله. اَلْحَمْدُ لله الذى وقع الرجب شهرا للمعراج، وأوجب فيه الصلاة للمسلمين كالسراج, أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وصَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى أله وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ



مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. أَيَّهُا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بتقوالله وقد فازالمتقون
Ayyuhal Muslimunal Hadhirunn, Rahimakumullah
Marilah kita bersama-sama meningkatkan kadar keimanan dan keislaman kita kepada Allah swt, sebagai bukti ketaqwaan kita kepada-Nya. Apabila Iman adalah urusan hati dan tempat bersemayamnya semangat ketuhanan yang bersifat abstrak, maka Islam adalah pengejawantahan dari keimanan tersebut yang nyata dan bersifat realistis yang telah diajarkan oleh Rasulullah melalui syari’at (shalat, zakat, puasa, haji).
Jika iman diibaratkan seperti panas yang menyengat, maka Islam adalah api yang berkobar. Islam tanpa iman bagaikan api tanpa panas. Yang hanya bisa menakutkan tapi tidak mampu membakar. Begitu juga sebaliknya, jika iman tanpa Islam sepeti panas tanpa api yang tidak berfungsi.
Dengan kata lain menjalankan segala perintah syariat Islam yang merupakan panji-panji kebesaran Islam adalah hal yang penting, namun jangan sampai melupakan kualitas iman yang ada dalam hati. Shalat jum’at, shalat jama’ah, haji, zakat adalah wajib dan harus dilaksanakan karena itu membuktikan kepada dunia akan kebesaran Islam. Namun pengayaan materi keimanan haruslah selalu di adakan, karena hal itu merupakan gizi bagi kesehatan mental Islam.
Karena itulah, meningkatkan ketaqwaan merupakan sebuah upaya meningkatkan dan menyeimbangkan kondisi iman dan Islam kita. Menyeimbangkan antara laku syari’at dengan laku hakekat (keimanan dalam hati). Sehingga terciptalah cita-cita al-islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaihi.


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Waktu terus berlalu, sampai tiba saatnya Bulan Rajab datang. Bulan Rajab adalah satu-satunya bulan yang bersejarah bagi Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam sehingga dalam salah satu haditsnya beliau pernah bersabda bahwa Rajab adalah bulanku, Sya’ban adalah bulan Tuhanku dan Ramadhan adalah bulan umatku. Begitu berharganya bulan Rajab bagi Rasullullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga ia membanggakan Rajab dan memposisikannya denga bulan Sya’ban dan Ramadhan.
Wajar saja karena pada bulan inilah beliau merasakan kesedihan yang amat sangat sepeninggal istri dan pamannya, sehingga para sejarawan menyebutnya ‘ammul huzn‘. Kemudian Allah swt menghibur Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam dengan bepergian dan bertamasya mengarungi keindahan dunia lahir dan mencicipi kenikmatan dunia bathin.  Inilah perjalanan isra’ dan mi’roj.


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Seperti yang telah maklum dimengerti bahwa diantara buah tangan Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam terpenting dari isro’ mi’roj adalah sholat lima waktu setiap hari. Konon lima kali ini merupakan bilangan terakhir yang diajukan oleh Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam kepada Allah swt, setelah sebelumnya Allah swt memerintahkan untuk sholat lima puluh kali.  Memang benar, kini kita baru merasakan betapa beratnya menjaga lima waktu setiap hari.
Padahal kita mafhum bahwa shalat yang lima ini menjadi tolak ukur ibadah seseorang. Hadits Riwayat at-Thabrani menjelaskan:
أول ما يحاسب عليه العبد يوم القيامة الصلاة، فإن صلحت صلح سائر عمله وإن فسدت فسد سائر عمله رواه الطبراني
Amal pertama kali akan dihisab untuk seorang hamba di hari kiamat nanti adalah shalat. Maka apabila Shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Dan jika sholatnya buruk, rusaklah semua amalnya. (HR. Thabrani).
Lantas apakah maksud kata kata ‘shalaha’ dalam hadits di atas? Shalat baik yang bagaimana yang dapat menarik segala amal menjadi baik?  Apakah shalat yang sekedar menggugurkan kewajiban lima waktu? Tentunya ada standard tertentu yang menjadikan sholat kita sebagai kunci segala amal ibadah, yaitu sholat yang seperti diajarkan oleh Rasulullah, seperti yang pernah dihimbaukan olehnya;
صلوا كما رأيتموني أصلي
Sholatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihat sholatku.
Artinya sholat yang baik itu adalah sholat yang memenuhi syarat sah, syarat wajib dan rukun sholat sebagaimana diwariskan Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam secara turun temurun dari para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, hingga para mujtahid fiqih, para ulama dan guru-guru kita.


Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Selain syarat fisik tersebut yang menjadikan syahnya shalat secara formal, juga perlu diperhatikan unsur informal yang juga menjadi ukuran kualitas shalat seseorang yaitu suasana hati yang khusu’. Karena seseungguhnya kekhusu’an itu berbuahkan kebahagiaan. Seperti janji Allah dalam dalam surah al-Mu’minun 1-2
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Sungguh berbahagia orang mukmin, yaitu mereka yang khusu’ dalam sholatnya.
Ungkapan kekhusu’an sholat ini sebenarnya telah diajarkan oleh para faqih semenjak kita takbiratul Ihram ketika membaca do’a iftitah
 إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Sesungguhnya Shalatku, ibadahku (sembelihan), hidupku dan matiku hanya karena Allah Tuhan Semesta Alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan karena itulah aku diperintahkan dan aku termasuk orang yang berserah diri.
Begitu pentingnya kekhusyu’an karena, khusyu’ dalam sholat akan mengantarkan kita meraih subtansi, sehingga sholat kita lebih bermakna dan tidak sekedar menggugurkan kewajiban saja. Jika demikian, adanya ketika kita telah berhasil shalat dengan khusu’ maka secara otomatis shalat kita akan beerfungsi sebagai filter diri atas berbagai tindakan kita. Sehingga apa yang difirmankan Allah dalam al-Ankabut ayat 45 akan terlaksana.
إن الصلاة تنهى عن الفخشاء والمنكر
Sesungguhnya shalat itu (dapat) mencegah perbuatan keji dan mungkar.



Hadirin Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia
Kekhusyu’an bukanlah hal yang mudah, khusyu’ dalam shalat memerlukan latihan dan latihan. Dikisahkan suatu ketika sahabat Ali Karramallahu Wajhah diuji kekhusyu’annya oleh Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam dalam dua raka’at shalat, namun Sahabat Ali yang memiliki julukan ‘babul ‘ilmi’ hanya berhasil khusyu’ dalam satu raka’at.
Sesungguhnya khusyu’ itu adanya dalam hati. khusyu’ hanya dapat dirasakan dan sulit sekali untuk digambarkan dengan kata-kata. Mereka yang telah berhasil dalam khusyu’ mungkin takkan pernah dapat menceritakan dalam ungkapan kata. Namun mereka hanya dapat bercerita bahwa khusyu’ itu haruslah dilatih dan dibiasakan.
Seorang sufi agung pernah berkata, bahwa khusyu dalam shalat dapat dibagi menjadi tiga tingkat. Pertama tingkatan awam yang dalam shalatnya benar-benar memposisikan diri sebagai seorang hamba yang papa yang mengharapkan do’anya dikabulkan dan sangat memerlukan pertolongan  dari Allah yang Maha Kuasa. Sholat dengan model khusyu’ semacam ini menurut kategorinya termasuk model sholat tingkat ta’abbud.
Tingkatan kedua adalah taqarrub yaitu kekhusyu’an yang melampaui tingkatan pertama. Mereka yang berada dalam posisi taqarrub dalam sholat hanya menginginkan keintiman dengan Allah swt. Mereka tidak lagi memperdulikan do’a-doanya. Karena mereka telah melihat dunia begitu hina. Sehingga tidak perlu lagi dikejar dan dipinta. Bahkan mereka merasa malu jika terus-terusan meminta dunia kepada Allah swt. Karena mereka hanya menginginkan kedekatan diri kepada-Nya.
Dan tingkatan ketiga adalah tawahhud yaitu kekhusyu’an dalam shalat yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Mereka memposisikan shalat sebagai media penyatuan diri kepada Allah swt. Yaitu sebuah proses ketika sifat kemanusiaan tersedot (majdzub) oleh sifat ketuhanan. Atau ketika sifat ketuhanan itu melebur sifat kemanusiaan, tidak ada lagi pemisah antara hamba dan Tuhannya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Dari ketiga tingkatan shalat ini, tidak ada alasan lagi bagi seorang muslim untuk meninggalkan shalat tidak juga mereka yang mengaku wali ataupun yang benar-benar wali. Karena derajat seseorang tidak membebaskan mereka dari kewajiban shalatnya. Dan lebih dari itu, sesungguhnya melaksanakan shalat merupakan bukti penghargaan kita kepada Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam. Bukti kebahagiaan kita menyambut buah tangan Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam dari Isro’ dan mi’roj.
Demikian khutbah jum’ah kali ini, semoga apa yang disampaikan ini bermanfaat bagi kita semua, amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًاكِثيْرًا.
 اَمَّابَعْدُفَيااَيُّهَاالنَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Share:

Contoh Khutbah Jumat dengan Tema Maulid Nabi





KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ ِللهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيْرِ، اَللَّطِيْفِ الْخَبِيْرِ، اَلْحَسِيْبِ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَالْمُجَازِى لَهَا بِمَا عَمِلَتْ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. بَعَثَهُ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قال الله تعالى، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم،
وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ ءَاوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ.
Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah ……!
Alhamdulillah, kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan taufiq-Nya yang telah dilimpahkan kepada kita sekalian, sehingga kita dapat menunaikan ibadah Jum’at pada saat ini.
Kemudian shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, yang pada bulan Rabiul Awal inilah beliau di lahirkan 14 abad yang lampau, tepatnya pada tanggal 12 Rabiul Awal 571 M yang disebut juga Tahun Gajah.
Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah ……!

Hari ini Jum’at tanggal 02 Januari 2015 M / 11 Rabiul Awal 1436 H, seperti biasa khususnya kita umat Islam di Indonesia selalu mengadakan peringatan Maulidur Rasul, yang bertepatan pada tanggal 03 Januari 2015 besok.

Dalam memperingati kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, sudah seyogyanyalah kita mengingat kembali ajaran-ajaran yang beliau sampaikan kepada kita untuk menjadi pedoman hidup terutama dalam menghadapi era globalisasi dan tekhnologi informasi saat ini. Peringatan maulid ini akan lebih bermakna kalau kita menelaah tatacara beliau hidup, baik muamalahnya dalam kehidupan sosial maupun ubudiahnya dalam mengabdi kepada Allah SWT.

Dalam perjalanan hidup beliau, Nabi Muhammad SAW telah melihat berbagai ketimpangan sosial yang terjadi dalam masyarakat Arab, seperti penyembahan berhala, pembunuhan sewenang-wenang, peperangan antar suku, pelecehan seksual terhadap kaum wanita, penindasan terhadap kaum yang lemah, dan berbagai tindakan amoral lainnya. Kondisi ini telah membuat beliau sangat prihatin. Maka melalui ibadah dzikir dan tafakkur kepada Allah SWT, beliau memilih Gua Hira’ sebagai tempat untuk bermunajat dalam mencari solusi bagaimana memperbaiki kondisi dan struktur sosial masyarakat Arab jahiliyah pada waktu itu. Disinilah beliau menerima wahyu yang pertama, yang terurai dalam lima ayat pertama di surat Al-Alaq.

Lafal “Iqra” adalah sebuah instruksi yang mengharuskan Muhammad SAW dan pengikutnya untuk membaca peristiwa-peristiwa alam dan mengintrospeksi dirinya sendiri. Hal ini akan mengantarkan seseorang untuk sampai ke tujuan akhir pengabdian dirinya kepada Allah SWT secara tulus.

Berbicara tentang cinta, memang sungguh mengasyikkan, tetapi adakah kita pernah berbicara tentang bagaimana cinta kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, yang seharusnya melebihi cinta kita kepada yang lainnya.

Apabila cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi dari pada cinta yang lainnya, barulah kita bisa merasakan betapa manisnya iman kita kepada Allah Swt, sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW :
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَـانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يَلْقَى فِى النَّـارِ

Artinya :    Ada Tiga perkara, barangsiapa yang ada padanya, ia akan mendapat kemanisan iman, yaitu : Bahwa Allah dan Rasul Nya lebih di cintainya daripada yang lain. Bahwa dia mencintai manusia, tidaklah dicintainya melainkan karena Allah. Bahwa dia membenci kekufuran kembali kepadanya, sesudah Allah melepaskan dari padanya,sebagaimana dia membenci dilemparkan ke dalam neraka (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas).

Kaum Muslimin Sidang Jama’ah Jum’at Rahimakumullah ……!

Pernyataan cinta, tidak cukup hanya dengan ucapan saja tapi harus ada bukti dan kenyataan. Demikian juga halnya dengan cinta kepada Rasulullah SAW, juga harus dibuktikan dalam bentuk perbuatan yang nyata, antara lain :
  1. Banyak menyebut nama Rasulallah SAW.
Hal ini dapat dilakukan memperbanyak shalawat dan salam. Shalawat adalah jamak dari shalat yang mempunyai dua arti yaitu do’a dan keberkatan, jadi arti bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW ialah menyampaikan permohonan keberkatan kepada Allah SWT untuk Nabi Besar Muhammad SAW. Bershalawat kepada Nabi Besar Muhammad SAW, bukan hanya kita kaum muslimin saja bahkan Allah dan para malaikat pun juga bershalawat kepada Beliau. Dalam surah Al-Ahzab ayat 56 Allah menjelaskan :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya :     Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya (QS. Al-Ahzab : 56).

Kaum Muslimin Sidang Jama’ah Jum’at Rahimakumullah ……!

Dengan ayat ini, jelas bahwa bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW suatu hal yang penting dalam Islam, terbukti dengan adanya kewajiban mengucapkan shalawat di dalam shalat karena termasuk diantara rukun, bahkan ketika ada yang menyebut nama Nabi Muhammad SAW disisi kita, mestinya kita lanjutkan dengan kalimat Shallallahu’alaihi Wasallam.

Dalam hadits riwayat Ahmad Nabi SAW bersabda :

الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Artinya :     Orang yang bakhil adalah orang yang apabila disebut namaku disisinya, dia tidak shalawat kepadaku (HR. Ahmad).

Dalam hadis lain, yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i, Nabi SAW juga bersabda :

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطَيَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ
Artinya : Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan dosanya sepuluh dosa, diangkatkan derajatnya sepuluh derajat (HR. An-Nasa’i)
Kaum Muslimin Sidang Jama’ah Jum’at Rahimakumullah ……!

  1. Berjuang menegakkan, mengembangkan dan membela ajarannya, serta menjaga kemurniannya dari aliran-aliran sesat, bid’ah dan khurafat.

Akhir-akhir ini kita disibukkan dengan munculnya beberapa faham-faham keagamaan, antara lain :
  1. Ahmadiyah
  2. Salamullah
  3. Al-Qiadah
  4. Al-Haq
  5. AKI (Amanat Keagungan Ilahi), dll
Dalam Rakernas MUI tanggal 6 November 2007 di Jakarta telah ditetapkan 10 kriteria sebuah faham/aliran keagamaan dinyatakan sesat, yaitu :
  1. Mengingkari salah satu rukun iman/rukun Islam
  2. Mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i
  3. Meyakini turunnya wahyu sesudah Al-Qur’an.
  4. Mengingkari kebenaran Al-Qur’an
  5. Menafsirkan Al-Qur’an tidak berdasarkan qaidah tafsir
  6. Mengingkari hadits sebagai sumber ajaran Islam
  7. Menghina/melecehkan/merendahkan Nabi/Rasul
  8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir
  9. Mengubah, menambah, mengurangi pokok-pokok ibadah
  10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i
Kaum Muslimin Sidang Jama’ah Jum’at Rahimakumullah ……!

  1. Mengamalkan dan mematuhi ajaran agama Islam yang diajarkannya dengan mempedomani Al-Qur’an dan Sunnah dalam kehidupan.
Dalam Surah Ali Imran ayat 31 Allah SWT berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya : Katakanlah (Muhammad) jika kamu benar-benar mencintai Allah SWT, ikutilah aku, niscaya Allah SWT mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalam Surah An-Nisa ayat 80 Allah SWT juga berfirman :

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
Artinya :     Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah SWT, dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

Seterusnya dalam Surah Al-Hasyr ayat 7 Allah SWT berfirman :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya :    Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah SWT sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

Kaum Muslimin Sidang Jama’ah Jum’at Rahimakumullah ……!

Semoga khutbah yang sangat singkat ini ada manfa’atnya bagi kita semua dengan kesimpulan bahwa Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW merupakan realisasi mencintai Rasulallah, yang dapat dilakukan dengan cara :
  1. Memperbanyak shalawat kepada Beliau;
  2. Berjuang menegakkan, mengembangkan dan membela ajarannya;
  3. Mengamalkan dan mematuhi ajaran agama Islam dan menghentikan semua larangannya.


بَارَكَ اللهُ لِى وَلـَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِـمَا فيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرالْحَكِيْمِ وَتَقَبَلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَ وَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْم.



Khutbah kedua (jum’at)

الخطبه الثا نيه

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْداً كَـثِيْراً كَمَا اَمَرَ, اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ     إرْغَامًا ِلمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ اْلخَلاَئِقِ وَاْلبَشَرَ صَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَاَصْحَا بِهِ اَجْمَعِيْنَ وَسَـلَّمَ تَسْلِيْمًاً كَثِراً,
يَااَيُّهَا النَّاسُ, اِتَّقُوا اللهَ وَافـْعَلُواالْخَيْرَ وَاجْتَنِبُواعَنِ السَّيِّآتِ, إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتِهُ يُصلُّونَ عَلَى النَّبِى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا, فـَاَجِـيْبُوا اللهَ عِباَدَاللهِ اِلىَ مَا دَعَا كُمْ وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلىَ مَنْ بِهِ اللهُ هَدَا كُمْ, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ وَعَلىَ التَّابِعِيْنَ وَتَا بِعِ التَّابِعِيْنَ وَارَضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَ حْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ, الَلَّهُمَّ اغْفِرْ ِللْمُؤ مِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ.اِنَكَ سَمِيْعٌ قَرِبٌ مُجِيْبٌ الدَّعْوَاتِ.اَللَّهُمَّ انْصُرْ اُمَّة ً سَيَّدِ نَا مُحَمَدٍ
اَللَّهُمَّ ارْ حَمْ اُمَّة ً سَيَّدِ نَا مُحَمَدٍ اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّ يْنِ وَاخْذُلْ مَن
خَذَلَ الْمُسْلِـمِيْنَ. وَاجْعَـلْ بَـلْدَ تَنَا اِنْدُ نِسِيَا هَذِهِ بَـلْدَةً آمِنَة ً مُطْمَئِـنَّة ً وَسَا ئِـرَ بُلْـدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَا مَّة ً. اَللَّهُمَّ ادْفـَعْ عَنَّا الْـغَلا َءَ وَالْبَلا َءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْـكَرَ وَ الْبَغْىَ وَالسُّيُوْفَ وَ الْمُخْتَلِـفَة َ وَالشَّدَا ئِدَ وَالْمِحَنَ وَالْفِتَنَ مَاظَـهَرَ مِنَهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلـَدِ نَا هَذَا خَا صَّة ً وَ مِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّة ً اِنَّكَ عَلىَ كُلِ شَيْئ ٍ قَـَدِ يْـرٌ.
رَبَنَا اغْفِرْ لـَنَا وَلِاِخْوَانِنَا لَّذِيْنَ سَبَقُوْ نَا ِبالاِيْمَان وَلاَتَجْعَلْ فِى قـُلـُوْبِنَا غِلاًّ ِللَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَنَا اِنَّكَ رَئُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بـِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى اْلقـُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لـَعَلـَكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلـُوْهُ مِنْ فـَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَيَهْدِكُمْ وَلَذِ كْرُاللهِ اَكْبَرُ. اَقِمِ الصَّلاَةَ
Share:

Sosial Media

Hai! Nama saya Agung Prasetyo N dan biasa di panggil Agung. Saya masih seorang pelajar di SMA. Saya berasal dari Boyolali. Read More..

Total Pageviews

Blog Archive

Entri Terbaru