Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Contoh Khutbah Jumat dengan Tema Isra’ Mi’raj




Khutbah Pertama

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ نَوَّرَ قُلُوْبَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِالْمَعْرِفَةِ فَاطْمَأَنَّتْ قُلُوْبُهُمْ بِالتَّوْحِيْدِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَهُوَ الرَّقِيْبُ الْمَجِيْدُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَنَارَ الْوُجُوْدَ بِنُوْرِ دِيْنِهِ وَشَرِيْعَتِهِ إِلَى يَوْمِ الْوَعِيْدِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِلَى يَوْمِ الْمَوْعُوْدِ. . أَمَّا بَعْدُ

Bulan Rajab Kita memperingati Isra’ Mi’raj dan dengan memperingati Isra’Mi’raj Kita menjaga Kualitas Shalat kita. Bulan Rajab kita mengenang peristiwa bersejarah dimana perintah Shalat Wajib Lima Waktu diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam. Bulan Rajab merupakan satu-satunya bulan yang bersejarah bagi Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam sehingga dalam salah satu haditsnya beliau pernah bersabda bahwa Rajab adalah bulanku, Sya’ban adalah bulan Tuhanku dan Ramadhan adalah bulan umatku. Berikut ini Khutbah Jumat: Memperingati Isra’ Mi’raj Untuk Menjaga Kualitas Shalat.

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا لله. اَلْحَمْدُ لله الذى وقع الرجب شهرا للمعراج، وأوجب فيه الصلاة للمسلمين كالسراج, أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وصَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى أله وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ



مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. أَيَّهُا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بتقوالله وقد فازالمتقون
Ayyuhal Muslimunal Hadhirunn, Rahimakumullah
Marilah kita bersama-sama meningkatkan kadar keimanan dan keislaman kita kepada Allah swt, sebagai bukti ketaqwaan kita kepada-Nya. Apabila Iman adalah urusan hati dan tempat bersemayamnya semangat ketuhanan yang bersifat abstrak, maka Islam adalah pengejawantahan dari keimanan tersebut yang nyata dan bersifat realistis yang telah diajarkan oleh Rasulullah melalui syari’at (shalat, zakat, puasa, haji).
Jika iman diibaratkan seperti panas yang menyengat, maka Islam adalah api yang berkobar. Islam tanpa iman bagaikan api tanpa panas. Yang hanya bisa menakutkan tapi tidak mampu membakar. Begitu juga sebaliknya, jika iman tanpa Islam sepeti panas tanpa api yang tidak berfungsi.
Dengan kata lain menjalankan segala perintah syariat Islam yang merupakan panji-panji kebesaran Islam adalah hal yang penting, namun jangan sampai melupakan kualitas iman yang ada dalam hati. Shalat jum’at, shalat jama’ah, haji, zakat adalah wajib dan harus dilaksanakan karena itu membuktikan kepada dunia akan kebesaran Islam. Namun pengayaan materi keimanan haruslah selalu di adakan, karena hal itu merupakan gizi bagi kesehatan mental Islam.
Karena itulah, meningkatkan ketaqwaan merupakan sebuah upaya meningkatkan dan menyeimbangkan kondisi iman dan Islam kita. Menyeimbangkan antara laku syari’at dengan laku hakekat (keimanan dalam hati). Sehingga terciptalah cita-cita al-islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaihi.


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Waktu terus berlalu, sampai tiba saatnya Bulan Rajab datang. Bulan Rajab adalah satu-satunya bulan yang bersejarah bagi Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam sehingga dalam salah satu haditsnya beliau pernah bersabda bahwa Rajab adalah bulanku, Sya’ban adalah bulan Tuhanku dan Ramadhan adalah bulan umatku. Begitu berharganya bulan Rajab bagi Rasullullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga ia membanggakan Rajab dan memposisikannya denga bulan Sya’ban dan Ramadhan.
Wajar saja karena pada bulan inilah beliau merasakan kesedihan yang amat sangat sepeninggal istri dan pamannya, sehingga para sejarawan menyebutnya ‘ammul huzn‘. Kemudian Allah swt menghibur Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam dengan bepergian dan bertamasya mengarungi keindahan dunia lahir dan mencicipi kenikmatan dunia bathin.  Inilah perjalanan isra’ dan mi’roj.


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Seperti yang telah maklum dimengerti bahwa diantara buah tangan Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam terpenting dari isro’ mi’roj adalah sholat lima waktu setiap hari. Konon lima kali ini merupakan bilangan terakhir yang diajukan oleh Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam kepada Allah swt, setelah sebelumnya Allah swt memerintahkan untuk sholat lima puluh kali.  Memang benar, kini kita baru merasakan betapa beratnya menjaga lima waktu setiap hari.
Padahal kita mafhum bahwa shalat yang lima ini menjadi tolak ukur ibadah seseorang. Hadits Riwayat at-Thabrani menjelaskan:
أول ما يحاسب عليه العبد يوم القيامة الصلاة، فإن صلحت صلح سائر عمله وإن فسدت فسد سائر عمله رواه الطبراني
Amal pertama kali akan dihisab untuk seorang hamba di hari kiamat nanti adalah shalat. Maka apabila Shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Dan jika sholatnya buruk, rusaklah semua amalnya. (HR. Thabrani).
Lantas apakah maksud kata kata ‘shalaha’ dalam hadits di atas? Shalat baik yang bagaimana yang dapat menarik segala amal menjadi baik?  Apakah shalat yang sekedar menggugurkan kewajiban lima waktu? Tentunya ada standard tertentu yang menjadikan sholat kita sebagai kunci segala amal ibadah, yaitu sholat yang seperti diajarkan oleh Rasulullah, seperti yang pernah dihimbaukan olehnya;
صلوا كما رأيتموني أصلي
Sholatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihat sholatku.
Artinya sholat yang baik itu adalah sholat yang memenuhi syarat sah, syarat wajib dan rukun sholat sebagaimana diwariskan Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam secara turun temurun dari para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, hingga para mujtahid fiqih, para ulama dan guru-guru kita.


Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Selain syarat fisik tersebut yang menjadikan syahnya shalat secara formal, juga perlu diperhatikan unsur informal yang juga menjadi ukuran kualitas shalat seseorang yaitu suasana hati yang khusu’. Karena seseungguhnya kekhusu’an itu berbuahkan kebahagiaan. Seperti janji Allah dalam dalam surah al-Mu’minun 1-2
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Sungguh berbahagia orang mukmin, yaitu mereka yang khusu’ dalam sholatnya.
Ungkapan kekhusu’an sholat ini sebenarnya telah diajarkan oleh para faqih semenjak kita takbiratul Ihram ketika membaca do’a iftitah
 إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Sesungguhnya Shalatku, ibadahku (sembelihan), hidupku dan matiku hanya karena Allah Tuhan Semesta Alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan karena itulah aku diperintahkan dan aku termasuk orang yang berserah diri.
Begitu pentingnya kekhusyu’an karena, khusyu’ dalam sholat akan mengantarkan kita meraih subtansi, sehingga sholat kita lebih bermakna dan tidak sekedar menggugurkan kewajiban saja. Jika demikian, adanya ketika kita telah berhasil shalat dengan khusu’ maka secara otomatis shalat kita akan beerfungsi sebagai filter diri atas berbagai tindakan kita. Sehingga apa yang difirmankan Allah dalam al-Ankabut ayat 45 akan terlaksana.
إن الصلاة تنهى عن الفخشاء والمنكر
Sesungguhnya shalat itu (dapat) mencegah perbuatan keji dan mungkar.



Hadirin Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia
Kekhusyu’an bukanlah hal yang mudah, khusyu’ dalam shalat memerlukan latihan dan latihan. Dikisahkan suatu ketika sahabat Ali Karramallahu Wajhah diuji kekhusyu’annya oleh Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam dalam dua raka’at shalat, namun Sahabat Ali yang memiliki julukan ‘babul ‘ilmi’ hanya berhasil khusyu’ dalam satu raka’at.
Sesungguhnya khusyu’ itu adanya dalam hati. khusyu’ hanya dapat dirasakan dan sulit sekali untuk digambarkan dengan kata-kata. Mereka yang telah berhasil dalam khusyu’ mungkin takkan pernah dapat menceritakan dalam ungkapan kata. Namun mereka hanya dapat bercerita bahwa khusyu’ itu haruslah dilatih dan dibiasakan.
Seorang sufi agung pernah berkata, bahwa khusyu dalam shalat dapat dibagi menjadi tiga tingkat. Pertama tingkatan awam yang dalam shalatnya benar-benar memposisikan diri sebagai seorang hamba yang papa yang mengharapkan do’anya dikabulkan dan sangat memerlukan pertolongan  dari Allah yang Maha Kuasa. Sholat dengan model khusyu’ semacam ini menurut kategorinya termasuk model sholat tingkat ta’abbud.
Tingkatan kedua adalah taqarrub yaitu kekhusyu’an yang melampaui tingkatan pertama. Mereka yang berada dalam posisi taqarrub dalam sholat hanya menginginkan keintiman dengan Allah swt. Mereka tidak lagi memperdulikan do’a-doanya. Karena mereka telah melihat dunia begitu hina. Sehingga tidak perlu lagi dikejar dan dipinta. Bahkan mereka merasa malu jika terus-terusan meminta dunia kepada Allah swt. Karena mereka hanya menginginkan kedekatan diri kepada-Nya.
Dan tingkatan ketiga adalah tawahhud yaitu kekhusyu’an dalam shalat yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Mereka memposisikan shalat sebagai media penyatuan diri kepada Allah swt. Yaitu sebuah proses ketika sifat kemanusiaan tersedot (majdzub) oleh sifat ketuhanan. Atau ketika sifat ketuhanan itu melebur sifat kemanusiaan, tidak ada lagi pemisah antara hamba dan Tuhannya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Dari ketiga tingkatan shalat ini, tidak ada alasan lagi bagi seorang muslim untuk meninggalkan shalat tidak juga mereka yang mengaku wali ataupun yang benar-benar wali. Karena derajat seseorang tidak membebaskan mereka dari kewajiban shalatnya. Dan lebih dari itu, sesungguhnya melaksanakan shalat merupakan bukti penghargaan kita kepada Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam. Bukti kebahagiaan kita menyambut buah tangan Rasulullah Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam dari Isro’ dan mi’roj.
Demikian khutbah jum’ah kali ini, semoga apa yang disampaikan ini bermanfaat bagi kita semua, amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًاكِثيْرًا.
 اَمَّابَعْدُفَيااَيُّهَاالنَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Share:

Contoh Khutbah Jumat dengan Tema Maulid Nabi





KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ ِللهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيْرِ، اَللَّطِيْفِ الْخَبِيْرِ، اَلْحَسِيْبِ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَالْمُجَازِى لَهَا بِمَا عَمِلَتْ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. بَعَثَهُ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قال الله تعالى، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم،
وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ ءَاوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ.
Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah ……!
Alhamdulillah, kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan taufiq-Nya yang telah dilimpahkan kepada kita sekalian, sehingga kita dapat menunaikan ibadah Jum’at pada saat ini.
Kemudian shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, yang pada bulan Rabiul Awal inilah beliau di lahirkan 14 abad yang lampau, tepatnya pada tanggal 12 Rabiul Awal 571 M yang disebut juga Tahun Gajah.
Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah ……!

Hari ini Jum’at tanggal 02 Januari 2015 M / 11 Rabiul Awal 1436 H, seperti biasa khususnya kita umat Islam di Indonesia selalu mengadakan peringatan Maulidur Rasul, yang bertepatan pada tanggal 03 Januari 2015 besok.

Dalam memperingati kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, sudah seyogyanyalah kita mengingat kembali ajaran-ajaran yang beliau sampaikan kepada kita untuk menjadi pedoman hidup terutama dalam menghadapi era globalisasi dan tekhnologi informasi saat ini. Peringatan maulid ini akan lebih bermakna kalau kita menelaah tatacara beliau hidup, baik muamalahnya dalam kehidupan sosial maupun ubudiahnya dalam mengabdi kepada Allah SWT.

Dalam perjalanan hidup beliau, Nabi Muhammad SAW telah melihat berbagai ketimpangan sosial yang terjadi dalam masyarakat Arab, seperti penyembahan berhala, pembunuhan sewenang-wenang, peperangan antar suku, pelecehan seksual terhadap kaum wanita, penindasan terhadap kaum yang lemah, dan berbagai tindakan amoral lainnya. Kondisi ini telah membuat beliau sangat prihatin. Maka melalui ibadah dzikir dan tafakkur kepada Allah SWT, beliau memilih Gua Hira’ sebagai tempat untuk bermunajat dalam mencari solusi bagaimana memperbaiki kondisi dan struktur sosial masyarakat Arab jahiliyah pada waktu itu. Disinilah beliau menerima wahyu yang pertama, yang terurai dalam lima ayat pertama di surat Al-Alaq.

Lafal “Iqra” adalah sebuah instruksi yang mengharuskan Muhammad SAW dan pengikutnya untuk membaca peristiwa-peristiwa alam dan mengintrospeksi dirinya sendiri. Hal ini akan mengantarkan seseorang untuk sampai ke tujuan akhir pengabdian dirinya kepada Allah SWT secara tulus.

Berbicara tentang cinta, memang sungguh mengasyikkan, tetapi adakah kita pernah berbicara tentang bagaimana cinta kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, yang seharusnya melebihi cinta kita kepada yang lainnya.

Apabila cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi dari pada cinta yang lainnya, barulah kita bisa merasakan betapa manisnya iman kita kepada Allah Swt, sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW :
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَـانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يَلْقَى فِى النَّـارِ

Artinya :    Ada Tiga perkara, barangsiapa yang ada padanya, ia akan mendapat kemanisan iman, yaitu : Bahwa Allah dan Rasul Nya lebih di cintainya daripada yang lain. Bahwa dia mencintai manusia, tidaklah dicintainya melainkan karena Allah. Bahwa dia membenci kekufuran kembali kepadanya, sesudah Allah melepaskan dari padanya,sebagaimana dia membenci dilemparkan ke dalam neraka (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas).

Kaum Muslimin Sidang Jama’ah Jum’at Rahimakumullah ……!

Pernyataan cinta, tidak cukup hanya dengan ucapan saja tapi harus ada bukti dan kenyataan. Demikian juga halnya dengan cinta kepada Rasulullah SAW, juga harus dibuktikan dalam bentuk perbuatan yang nyata, antara lain :
  1. Banyak menyebut nama Rasulallah SAW.
Hal ini dapat dilakukan memperbanyak shalawat dan salam. Shalawat adalah jamak dari shalat yang mempunyai dua arti yaitu do’a dan keberkatan, jadi arti bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW ialah menyampaikan permohonan keberkatan kepada Allah SWT untuk Nabi Besar Muhammad SAW. Bershalawat kepada Nabi Besar Muhammad SAW, bukan hanya kita kaum muslimin saja bahkan Allah dan para malaikat pun juga bershalawat kepada Beliau. Dalam surah Al-Ahzab ayat 56 Allah menjelaskan :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya :     Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya (QS. Al-Ahzab : 56).

Kaum Muslimin Sidang Jama’ah Jum’at Rahimakumullah ……!

Dengan ayat ini, jelas bahwa bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW suatu hal yang penting dalam Islam, terbukti dengan adanya kewajiban mengucapkan shalawat di dalam shalat karena termasuk diantara rukun, bahkan ketika ada yang menyebut nama Nabi Muhammad SAW disisi kita, mestinya kita lanjutkan dengan kalimat Shallallahu’alaihi Wasallam.

Dalam hadits riwayat Ahmad Nabi SAW bersabda :

الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Artinya :     Orang yang bakhil adalah orang yang apabila disebut namaku disisinya, dia tidak shalawat kepadaku (HR. Ahmad).

Dalam hadis lain, yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i, Nabi SAW juga bersabda :

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطَيَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ
Artinya : Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan dosanya sepuluh dosa, diangkatkan derajatnya sepuluh derajat (HR. An-Nasa’i)
Kaum Muslimin Sidang Jama’ah Jum’at Rahimakumullah ……!

  1. Berjuang menegakkan, mengembangkan dan membela ajarannya, serta menjaga kemurniannya dari aliran-aliran sesat, bid’ah dan khurafat.

Akhir-akhir ini kita disibukkan dengan munculnya beberapa faham-faham keagamaan, antara lain :
  1. Ahmadiyah
  2. Salamullah
  3. Al-Qiadah
  4. Al-Haq
  5. AKI (Amanat Keagungan Ilahi), dll
Dalam Rakernas MUI tanggal 6 November 2007 di Jakarta telah ditetapkan 10 kriteria sebuah faham/aliran keagamaan dinyatakan sesat, yaitu :
  1. Mengingkari salah satu rukun iman/rukun Islam
  2. Mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i
  3. Meyakini turunnya wahyu sesudah Al-Qur’an.
  4. Mengingkari kebenaran Al-Qur’an
  5. Menafsirkan Al-Qur’an tidak berdasarkan qaidah tafsir
  6. Mengingkari hadits sebagai sumber ajaran Islam
  7. Menghina/melecehkan/merendahkan Nabi/Rasul
  8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir
  9. Mengubah, menambah, mengurangi pokok-pokok ibadah
  10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i
Kaum Muslimin Sidang Jama’ah Jum’at Rahimakumullah ……!

  1. Mengamalkan dan mematuhi ajaran agama Islam yang diajarkannya dengan mempedomani Al-Qur’an dan Sunnah dalam kehidupan.
Dalam Surah Ali Imran ayat 31 Allah SWT berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya : Katakanlah (Muhammad) jika kamu benar-benar mencintai Allah SWT, ikutilah aku, niscaya Allah SWT mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalam Surah An-Nisa ayat 80 Allah SWT juga berfirman :

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
Artinya :     Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah SWT, dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

Seterusnya dalam Surah Al-Hasyr ayat 7 Allah SWT berfirman :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya :    Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah SWT sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

Kaum Muslimin Sidang Jama’ah Jum’at Rahimakumullah ……!

Semoga khutbah yang sangat singkat ini ada manfa’atnya bagi kita semua dengan kesimpulan bahwa Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW merupakan realisasi mencintai Rasulallah, yang dapat dilakukan dengan cara :
  1. Memperbanyak shalawat kepada Beliau;
  2. Berjuang menegakkan, mengembangkan dan membela ajarannya;
  3. Mengamalkan dan mematuhi ajaran agama Islam dan menghentikan semua larangannya.


بَارَكَ اللهُ لِى وَلـَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِـمَا فيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرالْحَكِيْمِ وَتَقَبَلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَ وَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْم.



Khutbah kedua (jum’at)

الخطبه الثا نيه

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْداً كَـثِيْراً كَمَا اَمَرَ, اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ     إرْغَامًا ِلمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ اْلخَلاَئِقِ وَاْلبَشَرَ صَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَاَصْحَا بِهِ اَجْمَعِيْنَ وَسَـلَّمَ تَسْلِيْمًاً كَثِراً,
يَااَيُّهَا النَّاسُ, اِتَّقُوا اللهَ وَافـْعَلُواالْخَيْرَ وَاجْتَنِبُواعَنِ السَّيِّآتِ, إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتِهُ يُصلُّونَ عَلَى النَّبِى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا, فـَاَجِـيْبُوا اللهَ عِباَدَاللهِ اِلىَ مَا دَعَا كُمْ وَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلىَ مَنْ بِهِ اللهُ هَدَا كُمْ, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ وَعَلىَ التَّابِعِيْنَ وَتَا بِعِ التَّابِعِيْنَ وَارَضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَ حْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ, الَلَّهُمَّ اغْفِرْ ِللْمُؤ مِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ.اِنَكَ سَمِيْعٌ قَرِبٌ مُجِيْبٌ الدَّعْوَاتِ.اَللَّهُمَّ انْصُرْ اُمَّة ً سَيَّدِ نَا مُحَمَدٍ
اَللَّهُمَّ ارْ حَمْ اُمَّة ً سَيَّدِ نَا مُحَمَدٍ اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّ يْنِ وَاخْذُلْ مَن
خَذَلَ الْمُسْلِـمِيْنَ. وَاجْعَـلْ بَـلْدَ تَنَا اِنْدُ نِسِيَا هَذِهِ بَـلْدَةً آمِنَة ً مُطْمَئِـنَّة ً وَسَا ئِـرَ بُلْـدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَا مَّة ً. اَللَّهُمَّ ادْفـَعْ عَنَّا الْـغَلا َءَ وَالْبَلا َءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْـكَرَ وَ الْبَغْىَ وَالسُّيُوْفَ وَ الْمُخْتَلِـفَة َ وَالشَّدَا ئِدَ وَالْمِحَنَ وَالْفِتَنَ مَاظَـهَرَ مِنَهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلـَدِ نَا هَذَا خَا صَّة ً وَ مِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّة ً اِنَّكَ عَلىَ كُلِ شَيْئ ٍ قَـَدِ يْـرٌ.
رَبَنَا اغْفِرْ لـَنَا وَلِاِخْوَانِنَا لَّذِيْنَ سَبَقُوْ نَا ِبالاِيْمَان وَلاَتَجْعَلْ فِى قـُلـُوْبِنَا غِلاًّ ِللَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَنَا اِنَّكَ رَئُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بـِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى اْلقـُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لـَعَلـَكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلـُوْهُ مِنْ فـَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَيَهْدِكُمْ وَلَذِ كْرُاللهِ اَكْبَرُ. اَقِمِ الصَّلاَةَ
Share:

Sosial Media

Hai! Nama saya Agung Prasetyo N dan biasa di panggil Agung. Saya masih seorang pelajar di SMA. Saya berasal dari Boyolali. Read More..

Total Pageviews

Blog Archive

Entri Terbaru